Kolaborasi Gagal

Patungan Artikel: Menerka Nasib Kru Panggung Pasca Pandemi

Ruang mengajak kamu untuk patungan agar tim redaksi kami dapat langsung meliput tentang nasib para kru panggung pasca pandemi.

SUDAH BERAKHIR
Boost
Rp0 boosted
Sponsor
0 boosted
base non target

Campaign dinyatakan sukses tanpa harus mencapai 70% dari nilai target. Dengan konsekuensi, campaigner wajib tetap harus mengirimkan reward kepada booster.

Boost & Sponsor

Kita tahu pandemi COVID-19 membuat ekonomi mangkrak. Kekayaan orang paling kaya di dunia saja dikabarkan akan tergerus hingga USD 1,6 triliun. Belum lagi yang kecil-kecil dan tidak terlaporkan.

Sehari-hari kita dengar tentang pemerintah, tenaga kesehatan, para ilmuwan yang bolak-balik bertengkar tentang mana yang lebih penting: ekonomi atau kesehatan? Padahal, kenyataannya, keduanya tentu tidak saling menggantikan. Aspek-aspek esensial ini perlu berjalan beriringan.

Di antara sekian banyak masalah ekonomi yang mengimpit hampir semua dari kita (untuk tidak menggeneralisasi, kita perlu tekankan kata “hampir”, mengutip meme penumpang yacht dan sekoci yang viral di medsos akhir-akhir ini), sedikit dari kita yang menyadari bahwa “dunia buku” masuk di jajaran industri yang agaknya terabaikan di situasi sulit ini.

Mengapa?

Sebagai pembaca, kita mungkin kerap lupa bahwa di belakang penulis favorit kita ada sederet proses yang bergerak bersamanya. Kita menuntut buku yang layak dipajang untuk dipamerkan di medsos. Gambar sampulnya harus ciamik, nama penulisnya harus yang tersohor, tulisannya harus yang menyentuh kita atau yang membuat otak kita takjub.

Hanya saja, sedikit dari kita yang menyadari, ada industri pabrikan dari hulu ke hilir—dari pemasok kertas hingga penyedia mesin percetakan—hingga perdebatan di balik meja redaksi yang memungkinkan sebuah buku sampai di tangan. Ini belum bicara urusan klasik pajak yang membelit, kasus pembajakan buku dan marketplace yang tak memberi sanksi tegas, royalti tidak ramah yang diterima oleh penulis, monopoli distribusi yang mendongkrak harga buku hingga berkali-kali lipat di wilayah-wilayah di luar Jawa.

Para pesohor dunia buku telah mengingatkan kita berkali-kali betapa banyak masalah yang dihadapi di industri buku dan, melihat bagaimana respons pemerintah dan sebagian besar konsumennya, betapa “tersier”-nya industri ini.

Di masa pandemi ini, bagaimanakah industri “tersier” yang di situasi normal pun sudah “megap-megap” ini dapat bertahan? Apa rencana ke depan para pelaku dunia buku untuk menghadapi pandemi yang diramalkan akan panjang ini?

Jika kamu bersedia mengambil sedikit peran, kami memberimu kesempatan untuk membantu kami meliput dan menuliskan keadaan di dunia buku hari ini.

Berikut pengeluaran yang dibutuhkan Ruang untuk menulis artikel ini:

Upah Penulis: Rp. 500,000

Upah Penyunting: Rp. 250,000

Upah design grafis: Rp. 250,000

Add Comments

Hot Kolaborasi

KOLABORASI TERANYAR SAAT INI