Ekpektasi Yang Patah Menyaksikan Konser Dekade Afgan

Ekpektasi Yang Patah Menyaksikan Konser Dekade Afgan

Saya tak ingin berekspektasi besar melihat Afgan tampil dalam Konser Dekade-nya yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (9/8) malam lalu. Penyebabnya, tak lain karena sudah sering sekali melihat aksinya dan memang menarik. So-so lah..
 
Tapi malam itu, ekpektasi yang ada di benak pikiran (penulis) jauh dari yang diduga. Solois muda idola kaum hawa ini tampil menawan sekali. Meski di awal terlihat gugup karena  5000 lebih penonton terlihat begitu antusias, namun perlahan cowok yang memulai karirnya di tahun 2008 ini mampu mengendalikan emosinya dengan amat baik.


 
Song list? ya..okelah. Setidaknya ada sekitar 32 lagu dibawakan dengan amat prima. Sejumlah lagu yang diaransemen khusus untuk malam itu hasilnya..goks! Sangat ‘segar’ untuk telinga penikmatnya. Koreo? Memang sudah kudu ada agar paket visual terlihat lebih menarik tentunya. Belum lagi, deretan bintang tamu seperti Marion Jola, Rendy Pandugo, Dipha Barus dan sejumlah element of surprise lainnya. Ah, so memorable...
 
Tapi penilaian saya bukan di situ. Jujur, saya agak terpana dengan stage yang spesial, tata panggung yang asyik, tata suara yang enak serta tata cahaya yang sedap dipandang. Mata dan telinga saya pun dibuai dengan paket musikal yang dipersembahkan. Saya merasa kalo Afgan perlahan sangat nyaman dengan perlakuan istimewa ini. Kelihatannya (Sok tau aja dulu) begitu sih.
 
Alhasil, usai speech pembuka dan menyebut sejumlah tamu undangan spesial di fase pertama, rasa dagdigdug Afgan mulai pecah dan perlahan menghilang. Dengan begitu, Afgan pun melahap deretan lagu pilihan dengan enjoy. Suka sekali saya melihat dia malam ini. Berbeda dari biasanya atau pertunjukan Afgan yang pernah digelar sebelumnya. Mungkin karena konser seharga tiket Rp 450.000 hingga Rp 3.000.000 ini memang spesial yah, jadi ya khusus banget persiapannya.

 


 
Ditambah saat melihat perlakuan promotor One Step Forward, konser berdurasi, 2,5 jam ini bak sedang menyaksikan artis internasional. Afganisme pun dimanjakan sekali. Spek audio visual dibikin enak banget (seperti yang disebutkan diatas).
 
Saya pun langsung berpikir. Andai semua musisi lokal mendapatkan treatment seperti ini dalam menggelar konser tunggal, hmmm...hasilnya jelas sangat maksimal. Penampil dan penonton akan sama-sama puas. Seru kayaknya.

 


 
Kenyamanan mata dan telinga malam itu dibuat terlena. Saya sampai lupa kalo di awal-awal acara sempat kesal karena beradu argumen dengan pihak yang mengundang, ahh...sudahlah. Sudah biasa...
 
Anyway, selamat Afgan. Selamat beristirahat sejenak. Meski beberapa hari sudah berselang semenjak Konser Dekade, tulisan ini adalah sudut pandang jujur pria yang sok tau juga seorang budak korporat paruh waktu yang terkesan penampilan pamungkasmu. (Teks: Ncekgaul . Foto : Putri/ Ncekgaul)